“Masih ingat kan kejadian tahun 1999 dulu? Kamu sudah menjagaku, mengurusku dan aku tahu, hatimu sangat baik buat adik-adikmu. Aku mencintaimu melebihi apapun. Apa yang kulakukan sekarang ini tidak sebanding dengan apa yang sudah pernah kamu berikan padaku. Aku ini benar-benar tak bisa menjaga diriku sendiri. Entah sampai kapan aku bisa hidup terus dan berada disisi kalian. Tapi kelak jika aku tak ada, hanya satu yang kumohon, tolong jagakan anakku. Tolong ingatkan dia, aku pernah berjuang seperti ini untuk keluarga ini. Aku pernah dengan segenap jiwaku mencintai anakku, mencintai kalian.
Bagiku, apapun di dunia ini tidak akan pernah ada harganya jika kalian tidak ada bersamaku.”
33 tahun aku besar bersamanya, tidak pernah sekalipun aku melihatnya menangis seperti malam itu. Cetakan wajahnya melekat dihatiku dan membuatku tak bisa untuk tak meneteskan airmata. 29 tahun kami nyaris bersama, kami saling selalu ada satu sama lain. Dan baru kali ini aku dapat membaca hatinya seperti lembaran halaman buku yang terpampang di depan mataku.
Aku tahu perjuangannya begitu berat. Ia menjadi tulang penopang rumah yang berdiri sendirian di tengah-tengah. Ia menjadi tempat semua orang bertumpu. Aku tahu betapa berat bebannya. Aku tahu betapa banyaknya lagi kata yang tak terucap dri hatinya. Ia yang tak terbiasa melampiaskan rasa. Ia yang selalu menyimpan segala beban dipunggungnya yang mulai ringkih. Ia yang 29 tahun terlihat jauh lebih tua dariku yang 33 tahun. Ia adikku. Adik kesayanganku.
***
Hampir setahun ini aku hidup bersamanya. Bersama dengan keluarga yang dicintainya. Aku melihat bagaimana perjuangannya. Namun baru malam ini aku tahu sebagian kecil sudut hatinya. Pojokan tersembunyi yang mungkin selama ini disimpannya rapat-rapat.
Begitu sering ia meninggalkan rumah untuk pekerjaannya.
“Kadang kupikir, aku sangat lelah dengan kehidupan seperti ini. Kejayaan memang sedang berada ditanganku. Semua terlihat begitu mudah kudapatkan. Tapi sampai kapan limpahan rejeki ini terus mengalir kepadaku, aku tak pernah tahu. Tiap malam rasanya pikiranku tak pernah berhenti berputar. Tiap malam kecamukan pikiran menghantuiku. Nyaris membuatku takut untuk memejamkan mata. Aku mengkhawatirkanmu. Aku ingin mewujudkan keinginanmu untuk membawa anakmu bersamamu. Aku ingin mengobati papa. Aku ingin menguliahkan adik bungsu kita sampai selesai. Aku ingin melihat anakku menyelesaikan sekolahnya hingga tingkat tertinggi yang diinginkannya. Berpuluh ribu keinginan. Langkahku lelah, tapi aku harus terus berlari.”
Yang aku tahu, penyesalan tak ada habisnya terbayang diwajahmu, ketika saat kelahiran anakmu, kamu tak ada disisi istrimu. Kamu hanya dapat memasrahkan moment penting itu padaku. Aku tahu pula, saat kamu berbulan-bulan jauh dari keluargamu, Betapa rindu membuatmu menderita hingga nyaris tak tertahankan. Dan saat itu aku hanya bisa membantumu dengan terus berada di tengah-tengah keluargamu.
Adikku, maafkan aku. Saat ini aku sungguh tak mampu memikul sedikit saja beban segunung yang ada di pundakmu. Tapak kaki yang kuinjak masih di tangga terbawah, begitu jauh aku tertinggal darimu yang melesat begitu kencangnya.
Aku janji, suatu saat aku akan membuatmu bangga. Sungguh. Suatu saat kamu akan melihat, aku, kakakmu, akan melangkah sejajar bersamamu, dan ketika waktu itu tiba, bagilah sedikit bebanmu itu padaku. Aku akan meringkankan langkahmu. Karena itu, tunggulah. Aku janji, aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk menyusulmu. Tunggulah. Jangan pernah kau meninggalkan aku.
Dari apapun diseluruh muka bumi ini, kamu memiliki tempat teristimewa dalam hatiku.
Aku menyayangimu selamanya.
@Semarang, 28 Agustus 2011
Dedicated for my lovely brother
Tidak ada komentar:
Posting Komentar