Jejak langkah kehidupanku adalah tarian pena yang penuh dengan rangkaian kata.


Sabtu, 27 Agustus 2011

You're So Special To Me


“Masih ingat kan kejadian tahun 1999 dulu? Kamu sudah menjagaku, mengurusku dan aku tahu, hatimu sangat baik buat adik-adikmu. Aku mencintaimu melebihi apapun. Apa yang kulakukan sekarang ini tidak sebanding dengan apa yang sudah pernah kamu berikan padaku. Aku ini benar-benar tak bisa menjaga diriku sendiri. Entah sampai kapan aku bisa hidup terus dan berada disisi kalian. Tapi kelak jika aku tak ada, hanya satu yang kumohon, tolong jagakan anakku.  Tolong ingatkan dia, aku pernah berjuang seperti ini untuk keluarga ini. Aku pernah dengan segenap jiwaku mencintai anakku, mencintai kalian. 
Bagiku, apapun di dunia ini tidak akan pernah ada harganya jika kalian tidak ada bersamaku.”

33 tahun aku besar bersamanya, tidak pernah sekalipun aku melihatnya menangis seperti malam itu. Cetakan wajahnya melekat dihatiku dan membuatku tak bisa untuk tak meneteskan airmata. 29 tahun kami nyaris bersama, kami saling selalu ada satu sama lain. Dan baru kali ini aku dapat membaca hatinya seperti lembaran halaman buku yang terpampang di depan mataku.

Aku tahu perjuangannya begitu berat. Ia menjadi tulang penopang rumah yang berdiri sendirian di tengah-tengah. Ia menjadi tempat semua orang bertumpu. Aku tahu betapa berat bebannya. Aku tahu betapa banyaknya lagi kata yang tak terucap dri hatinya. Ia yang tak terbiasa melampiaskan rasa. Ia yang selalu menyimpan segala beban dipunggungnya yang mulai ringkih. Ia yang 29 tahun terlihat jauh lebih tua dariku yang 33 tahun. Ia adikku. Adik kesayanganku.

***

Hampir setahun ini aku hidup bersamanya. Bersama dengan keluarga yang dicintainya. Aku melihat bagaimana perjuangannya. Namun baru malam ini aku tahu sebagian kecil sudut hatinya. Pojokan tersembunyi yang mungkin selama ini disimpannya rapat-rapat. 

Begitu sering ia meninggalkan rumah untuk pekerjaannya. 

“Kadang kupikir, aku sangat lelah dengan kehidupan seperti ini. Kejayaan memang sedang berada ditanganku. Semua terlihat begitu mudah kudapatkan. Tapi sampai kapan limpahan rejeki ini terus mengalir kepadaku, aku tak pernah tahu. Tiap malam rasanya pikiranku tak pernah berhenti berputar. Tiap malam kecamukan pikiran menghantuiku. Nyaris membuatku takut untuk memejamkan mata. Aku mengkhawatirkanmu. Aku ingin mewujudkan keinginanmu untuk membawa anakmu bersamamu. Aku ingin mengobati papa. Aku ingin menguliahkan adik bungsu kita sampai selesai. Aku ingin melihat anakku menyelesaikan sekolahnya hingga tingkat tertinggi yang diinginkannya. Berpuluh ribu keinginan. Langkahku lelah, tapi aku harus terus berlari.”

Yang aku tahu, penyesalan tak ada habisnya terbayang diwajahmu, ketika saat kelahiran anakmu, kamu tak ada disisi istrimu. Kamu hanya dapat memasrahkan moment penting itu padaku. Aku tahu pula, saat kamu berbulan-bulan jauh dari keluargamu, Betapa rindu membuatmu menderita hingga nyaris tak tertahankan. Dan saat itu aku hanya bisa membantumu dengan terus berada di tengah-tengah keluargamu.

Adikku, maafkan aku. Saat ini aku sungguh tak mampu memikul sedikit saja beban segunung yang ada di pundakmu. Tapak kaki yang kuinjak masih di tangga terbawah, begitu jauh aku tertinggal darimu yang melesat begitu kencangnya.

Aku janji, suatu saat aku akan membuatmu bangga. Sungguh. Suatu saat kamu akan melihat,  aku, kakakmu, akan melangkah sejajar bersamamu, dan ketika waktu itu tiba, bagilah sedikit bebanmu itu padaku. Aku akan meringkankan langkahmu. Karena itu, tunggulah. Aku janji, aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk menyusulmu. Tunggulah. Jangan pernah kau meninggalkan aku. 

Dari apapun diseluruh muka bumi ini, kamu memiliki tempat teristimewa dalam hatiku.

Aku menyayangimu selamanya.


@Semarang, 28 Agustus 2011
Dedicated for my lovely brother

Senin, 22 Agustus 2011

MENULIS ITU MUDAH? MASA?

Gambar di pinjam dari hady82.multiply.com

 Benarkah menulis itu semudah kita mengucapkan kata demi kata? Bagi penulis-penulis pemula seperti diriku, menulis masih tetaplah memerlukan perjuangan dan usaha yang sedemikian kerasnya agar dapat menghasilkan satu karya.

Hanya satu karya? Yup!



Hanya menghasilkan satu karya saja aku harus berjuang keras untuk merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat dan menjadikannya satu cerita utuh yang tertata dengan rapi dan runut.

Tapi itu dulu.... 
 
Dari begitu banyak buku tentang teori menulis yang kubaca serta dari berkali-kali ikut kursus menulis baik secara online maupun offline, sebenarnya menulis itu sangat mudah. Benar-benar mudah hingga kita bisa menuliskan setiap katanya seperti kita mengucapkan kata-kata itu secara langsung. Masa semudah itu?

Menulis itu sangat mudah, asalkan .......................

  • Punya Tujuan dan Impian
Menetapkan tujuan yang ingin dicapai sangatlah penting. Hampir disemua bidang kehidupan membutuhkan alasan mengapa kita sampai rela dan senang hati melakukannya. Dengan adanya tujuan maka motivasi di dalam diri dapat terus membara dan itu membuat kita melakukan kegiatan apapun akan terasa ringan dan menyenangkan. Begitu juga dengan menulis.

“Apa tujuanmu menulis?”

Aku pernah memikirkan pertanyaan itu hampir berbulan-bulan. Apa sebenarnya tujuanku menulis hingga aku rela kehilangan begitu banyak waktu istirahatku hanya untuk duduk di depan komputer, berjam-jam memegang buku dan pensil, kadang tanpa menghasilkan satu katapun yang dapat kutulis.

Dan tujuanku menulis adalah “menyembuhkan”......  Heran?
Dulu aku juga tak percaya bahwa kegiatan menulis itu dapat memberikan “kesembuhan”. Namun kenyataannya, begitu banyak luka hati, kenangan-kenangan yang menyakitkan yang pernah berakar dan mendarah daging di hati akhirnya tumpah ruah dalam berlembar-lembar kertas.

Setelah menuliskannya apa yang kita dapat?

Hanya perasaan lega setelah semua emosi yang terpendam lama tersebut dapat dikeluarkan dengan menuliskannya.

Tujuan dapat berkembang seiring dengan perkembangan diri kita. Pada saat kita sudah mulai mampu menumpahkan kata-kata yang berseliwaran dalam benak kita, Alangkah baiknya jika hasil tulisan itu dapat dibaca orang lain. Dengan dibaca orang lain, kita bisa berbagi hikmah yang terkandung dalam tulisan kita, siapa tahu diluar sana ada orang lain yang mengalami cerita yang sama dengan yang kita tuliskan. Membiarkan orang lain membaca tulisan kita juga bertujuan agar kita tahu kelemahan dan kelebihan karya tulis kita.

Malu? Takut?

Wajar.... Pasti ada rasa malu dan takut saat tulisan kita dibaca orang lain. Tapi ketakutan yang terbesar adalah bahwa sebenarnya diri kitalah yang tak mampu menghadapi kenyataan saat tulisan kita di kritik, saat ada yang berkata bahwa tulisan kita jelek. Intinya takut dan malu itu berasal dari ketidaksiapan kita untuk menerima kritik. Padahal satu kritikan kecil akan mampu membuat kita menjadi lebih berkembang.

Dan kini, tujuanku mulai mengarah menjadi sebuah cita-cita. Keinginan untuk mencapainya. Aku ingin suatu saat benar-benar menanggalkan status sebagai “ orang bayaran” dan menjadi “bos” bagi diriku sendiri melalui tulisan-tulisanku. Aku ingin tinggal di rumah, menikmati waktu lebih banyak lagi bersama keluargaku dan mendapatkan penghasilan dari menulis. Sebuah impian akan mampu membuat kita kembali berdiri saat terjatuh, membuat kita seteguh batu karang walau tetesan airmata membanjir karena banyaknya kerikil-kerikil yang harus dilalui. Satu impian kecil akan dapat memindahkan memindahkan gunung.

Nah, apa tujuanmu? Sudahkah kau tetapkan impianmu?

  • Seperti Bernafas, Menulis Itu Hanyalah Kebiasaan.
Pernahkan kita berpikir secara sengaja saat kita hendak menarik dan mengeluarkan udara dari paru-paru kita? Kita nyaris tak menyadari helaan nafas yang keluar masuk secara otomatis. Naluri? Mungkin. Tapi menurutku itu bukan hanya sekedar naluri. Bernafas adalah kebiasaan. Minum juga merupakan kebiasaan. Bangun tidur dan langsung membersihkan tempat tidur juga merupakan kebiasaan. Kebiasaan terbentuk dari pola yang terus diulang-ulang.

Coba lihat... Saat kita mengajarkan pada seorang anak kecil, bahwa saat bangun tidur, ia harus segera merapikan tempat tidur, lalu masuk ke kamar mandi untuk mandi dan menggosok gigi. Mungkin dihari pertama ia tak melakukannya. Mungkin di hari kedua, ia hanya mampu merapikan tempat tidurnya saja dan melupakan kegiatan berikutnya. Setelah satu bulan, akhirnya ia merapikan tempat tidurnya, masuk ke kamar mandi dan mandi tapi melupakan gosok gigi. Begitu seterusnya.

Kebiasaan akan terbentuk jika terus mengulang-ulangnya menjadi suatu kegiatan yang setiap hari harus kita lakukan. Begitu pula dengan menulis.

Jika kita menjadikan kegiatan menulis menjadi suatu kebiasaan, menulis apapun yang kita inginkan akan menjadi sangat mudah. Menulis menjadi semudah kita menarik nafas. Mungkin pada awalnya, kita hanya menuliskan satu kata, berikutnya satu kalimat. Kumpulan kalimat-kalimat itu akan membentuk paragraf. Dan suatu saat kita akan mampu menuliskan berpuluh-puluh bahkan berjuta-juta paragraf dengan sangat mudah.

Kebiasaan menulis itulah yang harus kita mulai dari sekarang jika kita bercita-cita menjadi seorang penulis. Tidak mudah pada awalnya bukan berarti tidak bisa.

  • Bingung Cari Ide?
“Haduhhh, mau menulis apaan nih? Gak ada ide sama sekali!!!”

Keluhan seperti ini sering kali terucap. Lihat saja di komunitas penulis yang tersebar di dunia maya, keluhan seperti itu sangatlah tidak asing. Hampir tiap hari ada saja yang mengeluhkan kalimat itu. Termasuk aku.

Namun setelah aku mengetahui bagaimana caranya mendapatkan ide, keluhan itu berangsur-angsur menghilang dari kamusku.

Ide itu dimana-mana. Di jalanan yang kita lalui, di rumah, di tempat kerja, dimana-mana selalu ada kejadian, orang atau situasi yang dapat dijadikan ide. Ide bertebaran di sekitar kita, tinggal kitanya saja peka atau tidak menangkap ide.
Ide datangnya bagai sambaran kilat di langit. Sekejap muncul dan sekejap pula hilang. Karena itu setiap ide yang muncul harus secepatnya kita tangkap agar tak hilang.

Bagaimana menangkap ide?

Sediakan selalu buku dan pena. Begitu ide muncul, segeralah tulis dalam buku itu. Setiap ide yang muncul tidak harus langsung jadi satu cerita atau naskah. Kita dapat mengumpulkannya dulu dan kelak dapat kita olah menjadi karya tulis kita.

Seperti artikel yang kutulis kali ini, ide ini muncul saat aku membaca beberapa buku tentang teori menulis beberapa waktu yang lalu. Dan malam ini, ketika aku membuka buku kecilku, aku langsung teringat akan ide untuk menulis tentang artikel ini.

Karena itu, tabungan ide yang kita kumpulkan sedikit demi sedikit merupakan aset berharga bagi seorang penulis. Tidak ada ceritanya seorang penulis akan kehabisan ide jika ia rajin menabung ide sedikit demi sedikit.

  • The Magic Of 3N
Setelah menulis menjadi kebiasaan, setelah kita mulai rajin mengumpulkan ide-ide yang bertebaran, selanjutnya adalah mengolah ide-ide tersebut menjadi naskah. Bagi penulis yang baru belajar seperti diriku, mengolah ide tetap saja memiliki kesulitan tersendiri. Kadang kita masih bingung akan menulis dari mana? Bingung untuk memulai menulis dari sisi yang mana? Benar kan?

Dari buku “Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang karya Andrias Harefa, ada satu bagian buku itu yang menyebutkan ungkapan yang ditulis oleh Mardjuki yaitu 3N : Niteni, Nirokke, Nambahi (Mengamati, Menirukan dan Menambahi).

Kita bisa belajar dari karya-karya penulis lain. Amatilah bagaimana penulis tersebut memulai ceritanya, pelajari temanya, bagaimana ia memulai dan mengakhiri konflik dan bagaimana ia meng-ending-kan suatu cerita.

Setelah itu, mulailah meniru. Meniru disini bukan berarti mencontek atau meng-copy paste seperti aslinya. Meniru disini berarti belajar untuk menuliskan kembali apa yang sudah kita baca dengan kata-kata dan gaya bahasa kita sendiri. Dengan menuliskan kembali bacaan yang telah kita baca dengan cara kita sendiri, berarti kita telah mengikat makna dari bacaan tersebut.

Yang terakhir adalah menambahi. Naskah yang telah kita tulis tersebut dapat kita gali lebih dalam dengan melengkapi pembahasan yang sudah ada dengan berbagai materi baru. Materi baru tersebut bisa kita dapatkan dari berbagai sumber referensi misalnya saja buku-buku yang sesuai dengan bahan yang sedang kita tulis, dari berbagai koran dan media televisi.

  • “Makanan Bergizi” Untuk Penulis
Penulis harus memenuhi kebutuhannya akan “makanan bergizi”. Tanpa makanan bergizi ini, penulis akan kekurangan bahan-bahan untuk tulisannya.

Apa makanan bergizi bagi seorang penulis?

Membaca... Membaca... dan ......... Membaca.

Syarat menjadi seorang penulis yang baik adalah bahwa ia juga merupakan seorang pembaca yang baik. Menulis dan membaca adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Dengan membaca kita akan menambah atau memperkaya kosakata yang kita miliki. Dengan membaca pula kita mendapatkan berbagai referensi yang dapat melengkapi tulisan-tulisan kita. Banyak membaca membuat kita akan memiliki pengetahuan yang tak terbatas. Pepatah “ Membaca adalah jendela dunia” adalah benar, bahwa semakin banyak kita membaca, maka kita akan semakin banyak tahu apa saja isi dunia ini.

  • Three M
Istilah 3M semakin naik daun akhir-akhir ini. 3M = Menulis... Menulis... Menulis! (dan dapat pula berarti Membaca... Membaca.... Membaca....)

Impian untuk menjadi seorang penulis tidak akan pernah terwujud jika kita tidak pernah menulis. Sebanyak apapun buku teori tentang menulis yang kita baca, tidak akan pernah dapat membuat kita menjadi seorang penulis tanpa kita sendiri pernah dan mau menulis. Berpuluh-puluh kali ikut kursus menulis baik online maupun offline akan percuma dan jadi ajang buang-buang uang saja jika satu karya tulis pun tak pernah kita hasilkan.

Kuncinya menjadi seorang penulis akhirnya hanya menulis, menulis dan menulis. Semakin banyak kita menulis, maka akan semakin lancar dan mudah kita menulis.

Jadi.... Tulislah apa saja. Menulislah sebanyak yang kamu bisa. Berlatihlah terus dengan menjadikan menulis, menulis dan menulis menjadi bagian dari hidup.
Maka, menulis akan menjadi sangat mudah.

Yuk Menulis!!!

@tengah malam di Surabaya
22 Agustus 2011

Jumat, 12 Agustus 2011

PEMBERDAYAAN IBU-IBU RUMAH TANGGA DI FACEBOOK

Salah satu buku Antologi karya Ibu-Ibu Doyan Nulis
PRESS RELEASE

Pemberdayaan Ibu-Ibu Rumah Tangga di Facebook



FACEBOOK bukan hanya urusan STATUS nggak penting, Facebook bisa jadi lahan pemberdayaan perempuan juga. Grup Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) salah satu grup yang serius melakukan hal ini. Grup yang berdiri di bulan Mei 2010 ini didirikan oleh seorang Ibu Rumah Tangga yang juga menekuni bisnis Agensi Naskah dengan nama Indscript Creative kini beranggotakan hampir 5000 orang ibu. 

Ibu Rumah Tangga itu bernama Indari Mastuti memang mantap melakukan pemberdayaan perempuan secara online dengan bidang pekerjaan MENULIS. 

Ya, menulis!


MENULIS merupakan salah satu kegiatan yang sebetulnya bisa dilakukan oleh semua orang. Sayangnya, kebanyakan orang sebelum memilih menjadi penulis sudah merasa bahwa dirinya ‘tidak berbakat’ untuk menulis. Padahal, hanya dengan konsistensi dan komitmen menjalankan aktifitas menulis setiap hari, akan membuat setiap orang terlatih menuliskan apa yang ada di kepalanya.


Profesi menulis yang dianggap hanya orang yang ‘berbakat’ yang bisa menjalankannya akan dikampanyekan sebagai satu profesi yang semua bisa melakukannya, termasuk IBU-IBU RUMAH TANGGA. Malah, justru dilatarbelakangi oleh aktifitas ibu-ibu yang hanya sumur-dapur-kasur, aktifitas menulis akan menjadi satu bagian keseharian yang kelak akan menghasilkan lebih dari sekadar karya. Ibu-ibu yang akhirnya memilih jalur menulis sebagai aktifitas keseharian tanpa meninggalkan rumah, akan mengalami lonjakan PRODUKTIFITAS baik secara ilmu, karya, maupun materi. Hadirnya grup ibu-ibu doyan nulis akhirnya dilatarbelakangi niat untuk meningkatkan produktifitas para ibu di berbagai hal.

Anggota IIDN yang kebanyakan ibu rumah tangga itu diajari bagaimana cara membuat outline yang baik agar dapat menembus dan menarik hati penerbit, bagaimana cara menghasilkan tulisan yang baik dari ide-ide sederhana yang ada di sekitar. Di IIDN, anggotanya juga diberikan pelatihan-pelatihan menulis secara berkala baik secara online, maupun offline. Secara nasional maupun per wilayah masing-masing.


Karena semakin bertambahnya anggota Grup IIDN dari hari ke hari yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia bahkan hingga ke mancanegara, maka diputuskanlah untuk membagi IIDN ke dalam wilayah-wilayah yang masing-masing dipimpin oleh Koordinator Wilayah (KORWIL) yang telah ditunjuk. Kini sudah ada sekira 22 Kordinator Wilayah di berbagai wilayah Indonesia serta luar negeri yang berpusat di Jepang. Masing-masing korwil bertugas untuk mengatur arus informasi yang berasal dari Pusat ke Wilayah ataupun sebaliknya. Dalam waktu dekat IIDN akan membuka 25 korwil di 25 negara di dunia.


Saat ini, proyek terbaru yang sedang dikerjakan oleh para anggota IIDN adalah beberapa proyek penulisan buku antologi (kumpulan kisah). Beberapa di antaranya yaitu :
  1. Storycake For Ramadhan (Penerbit, Gramedia Pustaka Utama, 2011). Buku antologi terbaru anggota grup IIDN yang berisikan 44 kisah-kisah indah dan inspiratif seputar Ramadhan yang menyentuh hati. Ditulis oleh 43 orang kontributor yang 99% adalah anggota grup IIDN. Saat ini sudah selesai cetak dan telah beredar di took-toko buku besar di Seluruh Indonesia.
  2. For The Love of Mom (Penerbit ETERA, 2011) sedang dalam proses percetakan. Sebuah antologi tentang betapa hebatnya perempuan sebagai ibu. Banyak kisah menyentuh yang akan membuat kita merindukan bunda nun jauh di sana.
  3. EMAK GOKIL, (Penerbit Rumah Ide, 2011) sebuah antologi tentang kisah-kisah konyol seputar kehidupan rumah tangga sehari-hari yang dialami oleh para ibu rumah tangga.
  4. KAMUS INDONESIA (Penerbit Sygma Eksamedia, 2011). Merupakan proyek besar di Grup IIDN yang melibatkan lebih dari 100 orang ibu-ibu/perempuan yang tersebar di seluruh Indonesia yang kesemuanya merupakan anggota IIDN. Hal ini merupakan hal pertama yang pernah terjadi dalam dunia penulisan di Indonesia dimana sebuah kamus lengkap serupa Ensiklopedia tentang kebudayaan dan adat istiadat lengkap di Indonesia, dikerjakan oleh begitu banyak penulis dan semuanya kebanyakan adalah ibu rumah tangga.

Kegiatan umum GRUP IIDN selain mengadakan pelatihan-pelatihan kepenulisan untuk umum dan anggota, kami juga mengadakan event-event seperti misalnya :
  1. Mengikuti event-event bazaar, selain untuk mensosialisasikan komunitas kami, juga untuk menjual buku-buku hasil karya anggota Grup IIDN.
  2. Kopdar (Kopi Darat) pertemuan tidak rutin antar anggota IIDN baik yang ada dalam wilayah yang sama ataupun secara nasional.
  3. Mengadakan baksos dan kegiatan-kegiatan lain yang bermanfaat. Seperti misalnya pada bulan Ramadhan seperti ini. Insya Allah di pertengahan Ramadhan, Grup IIDN akan mengadakan bakti sosial bekerja sama dengan sponsor dan seluruh anggota IIDN di seluruh Indonesia.

Pada akhirnya, Indscript Creative selaku Perusahaan Agensi Penerbitan Naskah dengan Indari Mastuti sebagai CEO nya, yang membawahi Grup IIDN ini, mencoba mengeluarkan potensi kaum ibu rumah tangga yang selama ini selalu dianggap tak memiliki kemampuan lebih, menjadi ibu-ibu dan wanita yang produktif di mana mereka tidak hanya menghasilkan karya yang dapat dibaca orang banyak, melainkan juga dapat menghasilkan materi yang akan membantu perekonomian keluarga.


Marketing Communication

Lygia Nostalina, SH

 

Profil Pendiri GRUP IBU-IBU DOYAN NULIS

Indari Mastuti, lahir di Bandung,  Jawa-Barat, 09 Juli 1980. Berdomisili di Jl. PLN Dalam I No.1/203D,Moh Toha, Bandung. Rumah yang juga sekaligus menjadi pusat aktifitas IIDN ini semakin memantapkan eksistensinya sebagai Ibu Rumah Tangga yang doyan bisnis J. Memiliki pengalaman kerja mulai dari Jurnalis Tabloid Indonesia-Indonesia, Marketing, hingga akhirnya menjadi Direktur Pemasaran dan Redaksi Indscript Creative. Pengalaman menulis sejak tahun 1996 sebagai penulis artikel dan koresponden di berbagai media, dan kini menjadi mentor pelatihan penulisan di berbagai tempat. Telah menelurkan lebih dari 60 judul buku.



Profil Usaha


Indscript Creative didirikan karena keinginan dari calon Ibu yang ingin total bekerja di rumah. Meninggalkan hiruk-pikuk dunia karir demi mengurus keluarga. Berpikir untuk mencari bisnis apa yang bisa dikerjakan di rumah dan sesuai dengan minat yang dimiliki. Kebetulan hobi dan minat menulis mendorongnya untuk menjadikan profesi menulis menjadi sumber penghasilan.

Seiring berjalannya waktu, Indscript Creative pun terus berkembang. Indscript Creative mulai dibangun pada akhir tahun 2007. Ketika pertama kalinya didirikan, fokus pasar Indscript Creative adalah bidang penerbitan. Indscript Creative memposisikan diri sebagai agensi naskah, yaitu menjadi mediator antara penulis dengan penerbit, antara penerbit dengan penulis. Indscript Creative mengemas naskah supaya lebih cantik dan bernilai jual.

Kini, Indscript Creative memiliki 30 klien penerbit, 4 klien korporat, dan 2 klien Institusi pendidikan. Memiliki kerjasama dengan lebih dari 214 penulis aktif, 5 studio gambar, dan telah menetaskan lebih 400 judul buku di pasar bebas.



Pendapat Para Penulis Indscript Creative

Indscript Creative membuat saya bersemangat menulis. Buku solo saya yang pertama terbit setelah bergabung dengan mereka. Pelatihan-pelatihan yang saya ikuti membuka wawasan saya mengenai kepenulisan. Saya juga belajar menulis skenario dari pelatihan tersebut. Indscript Creative memang hebat! Saya takkan ingin berhenti menulis karenanya.
(Fitha Chakra, Penulis Buku Anak, Depok)


Indari membuat saya tergerak menekuni dunia menulis secara serius. Meskipun ada sedikit keraguan untuk memulai ketika itu, tapi ia tak henti menyemangati saya. Sejak saat itu naskah demi naskah terus berdatangan. Ide dan inspirasi menulis makin hari makin mengalir deras seiring kualitas tulisan yang bertambah baik. Terima kasih banyak kuucapkan untuk adikku yang hebat ini. Semangat, tekad, ketekunan, dan kerja kerasnya menjadi inspirasi bagi saya dan banyak orang. Be inspired, stay positive.
(Astri Novia, Penulis Buku Populer, Bandung)

Pertama kali saya tahu Indscript Creative karena dikenalkan oleh teman. Setelah gabung, saya langsung merasa nyaman. Indari, owner-nya, ramah dan friendly. Dalam waktu singkat, saya dan Iin menjadi akrab seperti sudah lama kenal. Lalu, yang paling penting adalah bahwa bergabung bersama Indscript jadi sering diorder untuk membuat naskah.
(Nunik Utami, Penulis Buku Anak, Jakarta)


Bagi saya, indscript itu sahabat sejati yang membantu banget. Saya nggak perlu capek2 mikirin penerbit, nentuin tema, bikin perjanjian dan urusan tetek bengek lainnya. Saya cukup fokus nulis saja, lainnya...serakan pada ahlinya :) (whoaaaa....iklan banget ya :)
(Firmanawaty Sutan, Penulis Buku Sains dan Life Skill, Jakarta)

Indscript sangat membantu saya dalam mengembangkan potensi dan kemampuan dalam menulis. Dengan bantuan dan profesionalisme Indscript, saya menjadi sangat terbantu dalam menerbitkan buku dengan kualitas terbaik. Selain itu, Indscript sangat membantu saya dalam meningkatkan angka kredit jabatan peneliti :D. Sukses selalu buat tim Indcript.
(Hanif Fakhrurroja, Penulis IT dan Bisnis, Bandung)

Dulu, aku sering kebingungan untuk nyalurin ide-ide tulisan yang udah numpuk di file dan di kepala. Mau langsung ke penerbit ga pede. Tapi setelah ada Indscript, ga gitu lagi. Jelas, kini semua ide bisa dicairkan menjadi penghasilan yang tidak sedikit. Apalagi untuk ukuran ibu-ibu pengangguran macam aku. Setiap bulan, Indscript selalu memberiku penghasilan. Jadi makin ogah deh kerja kantoran lagi. Yuk berkarya di rumah via Indscript :p
(Nia Haryanto, Penulis Sains dan Kesehatan, Bandung)

Kamis, 11 Agustus 2011

Berapakah Harga Diriku Sebenarnya?


Tak dihargai itu memang tidak mengenakkan. Tapi jika dipikir tentang harga diri, berapa sih sebenarnya harga diri yang kita mau? Tidak ada patokan tentang harga diri yang sesungguhnya. Yang ada hanyalah rasa egois kita dimana kita merasa terganggu kepentingan kita akibat ada orang lain, entah keluarga, saudara atau bahkan orang yang tak kita kenal membuat perasaan kita tak nyaman

Seperti kejadian tadi. 

Tidak ada maksud sebenarnya akan ungkapan atau saran apapun yang terucap dari mulut kepada calon adik iparku itu. Ketika adik laki-laki nomor 4ku memberitahu bahwa ada lowongan pekerjaan di Pertamina, aku langsung menyeletuk saja ,” ituloh adiknya temenku kerja di Pertamina malah bergaji besar, sayang kalau tak dicoba.”
“Mana ada lulusan fresh graduate yang langsung dibayar mahal. Ga mungkin. Mana buktinya?”
Sebagai seorang kakak tertua, kalimat yang dilontarkannya itu membuat ulu hatiku tertohok. Tidak pernah ada maksud memberikan informasi palsu atau hanya sekedar gaya-gayaan bahwa memang  adik temanku itu bekerja di Pertamina bergaji besar padahal baru lulus. Tidak ada untungnya buatku. Aku menjadi merasa tidak dipercaya. Merasa di remehkan dan tidak dihargai sebagai seorang kakak.

Memang, diantara lima bersaudara, sebagai kakak paling tua, aku belum menunjukkan prestasi apapun yang dapat membanggakan orang tua dan keluarga besarku. Hanya lulusan SMA, menikah lalu bercerai. Dan sekarang menumpang hidup di rumah adikku yang nomor 2 yang sudah  berkeluarga. Kenyataan yang memang benar ini akhirnya membuatku menjadi perasa. Singgungan masalah sedikit saja seperti cerita di atas langsung membuatku tiba-tiba merasa berkecil hati, merasa orang gagal yang tidak bisa dibanggakan atau mungkin membuat malu keluarga.

Lalu jika rasa tidak dihargai itu membuat aku menjadi semakin terpuruk? Sepertinya itu salah besar. Seharusnya aku bangkit untuk membuktikan bahwa dengan kondisiku yang sekarang ini, aku mampu berkarya dan suatu saat aku mampu mandiri dan hidup dengan kondisi lebih baik dari saat ini.

Seharusnya “gesekan-gesekan” kecil masalah harga diri itu semakin memacu semangatku untuk bekerja dua kali lipat lebih keras, dua kali lipat lebih banyak atau berkali-kali lipat dari yang sudah kulakukan sekarang.
Dan akibat dari itu semua, seharusnya aku semakin terlatih untuk mengelola emosi, menahan diri dan selalu melihat sisi positif dari segi manapun. Belajar untuk memilah-milah masalah dari sudut pandang lain, melihat diluar kotak.

Anggap saja, walau aku hanya seorang lulusan SMA. Saat ini aku sedang kuliah di sebuah universitas yang namanya Universitas Kehidupan. Dimana aku ditempa untuk menjadi manusia yang lebih baik secara materi dan rohani. Dimana saat ini aku diajari untuk bersabar, menerima segala gesekan sebagai suntikan semangat positif, belajar memahami berbagai karakter orang dan belajar sebanyak mungkin tentang kehidupan.

Suatu saat, aku yakin. Allah tidak akan membiarkan keadaan ini terus ada dalam hidupku. Sampai saat ini, aku masih berharap “ Semua akan indah pada waktunya.”

Dan suatu saat jika ada yang berani bertanya kepadaku, “berapakah harga diriku sebenarnya?”
Aku hanya tinggal menjawab, “ Wani pira?” :p

Surabaya, 11 Agustus 2011-08-12
@Masih di rumah tumpangan Delta Mandala