Jejak langkah kehidupanku adalah tarian pena yang penuh dengan rangkaian kata.


Sabtu, 26 November 2011

Letter To Mom

Mamaku sayang,

Apa kabarmu hari ini? Baik-baik sajakah?

Walau tak baikpun pasti akan selalu kau jawab baik-baik saja. 


Seburuk apapun keadaanmu, sebesar apapun masalah yang kau hadapi. 
Semua akan kau ucapkan baik-baik saja.
Engkau selalu menutupi isi hatimu. 
Yang kau inginkan hanya kebahagiaan suamimu, anak-anak dan cucu-cucumu. 
Kepentingan keluargamu selalu yang utama bagimu. 
Tak peduli jika kepentinganmu harus tertunda entah sampai kapan.

Ma, nyatanya keadaanmu tak baik-baik saja seperti yang kau katakan, kan?
Ada penyakit di tubuhmu. 
Menggerogoti tubuh ringkihmu yang menginjak ke tangga senja.
Ada kesakitan yang kau tahan, hingga akhirnya sering terucap  
karena kau tak sanggup menanggungnya lagi.
Dan lagi-lagi.... Itu kau bilang baik-baik saja!

Ma, dalam sakitpun kau tertawa.
Saat sedihpun kau hanya diam
Tapi engkau tak akan pernah bisa menutupinya dariku, Ma.
Aku merekam jejak langkahmu sejak masa kanak-kanakku
Aku melihat rembesan airmatamu yang menetes diam-diam
Aku melihat luka-luka yang kau kubur perlahan
Namun diantara semua itu aku melihat lautan cinta
Tanpa syarat.... 
Lebih luas dari samudra

Ma, apa kata dokter?
Sungguh, Ma, untuk kali ini saja. 
Jangan lagi-lagi kau katakan semuanya baik-baik saja.
Kenapa tangan kirimu, Ma?
Kenapa dada kirimu?
Sakitnya seperti apa?
Sakit sekali kah?
Ceritakan semuanya, Ma
Aku tak ingin semuanya terlambat
Aku tak ingin semua yang baik-baik saja itu akan sangat buruk kenyataannya.

Ma......
Saat ini namamu terus terucap

Ma.....
Ma....
Maaaaaaaaaaaaaaaa

Tolong! Jangan pernah yang buruk itu terjadi
Ma... Jangan, Ma...
Aku belum siap.... dan tak akan pernah siap.

Ma.....


Surabaya, 27 November 2011


Cerita Yang Tertinggal



Desau angin sore yang semilir mempermainkan rambutnya. Udara dingin lembab mulai menembus jaket yang dikenakannya. Warna langit mulai temaram. Menandakan sebentar lagi senja akan datang. Tapi ia tetap pada posisinya. Duduk membatu bersandar sebatang pohon. Menatap pemandangan kota Batu di kejauhan yang terhampar dihadapannya. Tak bergeming.

***

“Nanti sore ku jemput. Tunggu aja di kost!” begitu teriak laki-laki itu setelah mengantarkannya pulang ke rumah kostnya.

Ia terdiam. Melambaikan tangan pada sosok laki-laki itu yang mulai menjauh. Tak terlalu memikirkannya. Karena laki-laki itu bukanlah siapa-siapa.

Namun ketika laki-laki itu kembali muncul di pelataran rumah kostnya. Untuk menjemputnya seperti yang ia janjikan. Debar di dada tiba-tiba muncul tak diundang. Menghantam tembok-tembok pertahanan yang selama ini dibangunnya. Ia tak ingin disakiti lagi. Tidak oleh lelaki ini. Tidak pula oleh lelaki manapun.

“Ayo pergi denganku. Akan kutunjukkan tempat terindah yang akan membuatmu terpesona.”

Teman kuliah. Sama seperti teman lelaki lainnya yang biasa menemani hari-harinya di kampus. Tak ada salahnya pergi bersamanya. Toh, ia hanya teman biasa. Walau di pojokan hati yang tak kasat mata, ada denyar-denyar aneh yang tak biasa.

Dalam boncengan laki-laki bertubuh tinggi di depannya, ia tetap menghalau gelenyar aneh dalam hatinya. Ada rasa nyaman yang selalu dirindukannya. Rasa hangat akan sosok laki-laki yang dulu pernah di pujanya. Namun rasa sakit masa lalu membuatnya kembali membuat tembok-tembok pelindung hatinya.

Tangan laki-laki itu tiba-tiba menyentakkannya. Perlahan laki-laki itu menarik tangan yang sedari tadi ditumpukan dipahanya dan membawanya melingkari pinggang dihadapannya. Diam. Tanpa kata-kata. Membiarkan kehangatan dari genggaman tangan itu merambati seluruh tubuhnya.

“Dia menyukaimu! Perhatiannya itu bukan perhatian seorang teman! Masa kamu tak merasakannya, sih?”
Kata-kata sahabatnya itu kembali menyeruak dalam ingatannya. Membuat dadanya kembali memainkan debar-debar berirama.

***

Sesekali dilemparkannya kerikil-kerikil kecil ke hamparan rerumputan dan pepohonan yang merimbun di kaki bukit ini. Aku ikut terdiam di sisinya. Memperhatikan detail lekuk wajah manisnya yang tertutup kesedihan.

Aku tak begitu mengenalnya. Aku hanya tahu, setiap sore ia akan duduk di situ. Bersandar di pohon yang sama dan menatap ke arah yang sama. Menunggu langit senja memerah dan mengakhirinya ketika kegelapan malam menyelimuti tempat ini. Dulu kupikir ia gila. Hanya gadis gila yang berani menghabiskan waktu ditempat seperti ini malam-malam.

***

Ia menyatakan cintanya malam itu. Disini. Dibawah hamparan langit penuh bintang. Menatap kota Batu di bawah sana yang seperti kota Hongkong di waktu malam. Di tebing, di pinggir jalan masuk menuju tempat wisata air terjun Cuban Rondo.

Ia tidak romantis. Namun dia mampu membuat dadaku menari-nari dalam melodi indah. Genggaman tangannya, tatap matanya saat menyatakan cintanya padaku disini mulai menggoyahkan tembok-tembok pertahanan yang bertahun-tahun kubangun.

Kami menghabiskan waktu disini. Menikmati senja yang memerah saga. Membiarkan kehangatan tangan yang saling menggenggam merambati seluruh denyut nadi tubuh. Menghalau dinginnya udara malam yang menggigit.

Aku tak perlu menjawabnya. Karena aku tahu, ia tak membutuhkan jawaban. Baginya, cinta adalah memberi tanpa syarat. Tak mengharapkan balasan apapun. Dan aku menikmati pemberiannya ini diladang hatiku yang gersang. Berharap ia mampu menumbuhkan ribuan mawar merah di tanah tandus hatiku.

Tahukah kamu? Tembok pertahanku seketika runtuh. Hancur berkeping-keping. Ketika ia membawaku masuk ke dalam sana. Menikmati malam dengan bergandengan tangan. Menyusuri jalan setapak berbatu menuju air terjun itu. Dan di bawah air terjun itu. Bertempias butiran air yang tertiup angin, ia menciumku.

***

Sudah dua malam ini aku menunggunya. Ditempat yang sama. Di bawah pohon yang sama. Di waktu yang sama. Namun ia tak pernah datang lagi. Aku ingin tahu kelanjutan ceritanya. Kemanakah laki-laki yang mampu merobohkan tembok pertahanan hatinya itu? Dua malam ini aku menunggunya hingga larut. Namun hanya desiran angin yang mengisi kekosongan. Dingin yang menggigit nyaris membekukan tulang belulang.

Akhirnya aku berlari ke bumi perkemahan. Ikut merubung api unggun di tengah teman-temanku yang sibuk bernyanyi dan bergitar. Ikut menyanyi di tengah kebingungan. Merindukan kehadiran gadis berwajah sedih yang tak lagi datang.

***

Malam ini adalah malam terakhirku di perkemahan. Besok aku dan teman-teman kantorku akan kembali ke Surabaya. Kembali disibukkan dengan rutinitas kerjaan yang menggila. Tak ada habisnya. Aku ingin kembali bertemu dengan gadis itu.

Namun lagi-lagi aku hanya menemukan tempat kosong. Ditebing yang sama. Di batang pohon yang sama. Aku tertegun. Menunggunya seperti mengharapkan sesuatu yang tak pasti.

“Bodoh!” Kutepuk dahiku sendiri. Kenapa sedari awal tak kutanyakan saja namanya. Atau sekalian saja kuajak berkenalan dan meminta alamatnya atau nomor telponnya. Dalam gundah kudengar teriakan teman-temanku yang memanggilku......

***

Rasa dingin merambati tubuhku. Namun aku tetap disini. Duduk di tebing yang sama. Bersandar di batang pohon yang sama. Siluet tubuhnya masih terbayang dalam benakku. Garis wajahnya yang sedih masih bermain-main dalam ingatanku.

Akhirnya aku kembali lagi ke tempat ini. Rasa penasaranku tentangmu membuatku memutuskan untuk menghabiskan akhir pekanku disini. Berharap ada yang mengenalimu. Berharap kamu adalah penduduk sekitar tempat wisata Cuban Rondo ini.

Tadi sore aku tiba disini. Memarkir mobilku di dekat tebing dimana kamu biasa duduk terdiam memandang kejauhan. Seorang Bapak Tua pencari kayu bakar yang biasa mencari kayu bakar di dalam hutan lindung ini lewat di dekatku. Entah angin apa yang membuatku memanggil Bapak Tua itu dan memaksanya untuk duduk sejenak bersamaku.

Aliran darah tiba-tiba berhenti masuk ke jantungku dan sesaat membuatku lupa untuk bernafas ketika Bapak Tua itu bercerita tentangmu.
Kamu bukan penduduk sekitar sini. Dua bulan yang lalu tubuhmu ditemukan di kaki air terjun Cuban Rondo. Darahmu memerahkan aliran sungainya. Tubuhmu terbungkus dalam guyuran air terjun. Tak ada yang tahu penyebab kematianmu. Tak ada yang tahu mengapa kau mengakhiri hidupmu disini. Namun aku tahu, kamu telah menitipkan cerita yang tertinggal untukku. Dan aku juga tahu, kamu kembali tersakiti.

 Note : Cerpen ini juga di posting di blogku yang lain.

Senin, 03 Oktober 2011

3 Oktober 2011

Gambar di pinjam dari : http://dimensi-pena.blogspot.com/2010/11/membuka-halaman-baru.html
Hari ini, 3 Oktober 2011... 

Sepertinya episode hidupku akan berubah lagi. Tidak menyangka pada awalnya, tapi inilah yang harus terjadi hari ini. Berat memang untuk mengikhlaskan, tapi nyatanya sudah terjadi... Mau apa lagi.. 
Mbulet? Memang. Keruwetan masih menemaniku sampai hari ini.

Aku tak menyangka sampai tega memukulnya. Entah setan apa yang mempengaruhi diriku hingga aku lepas kontrol emosi yang selama ini sekuat tenaga kusimpan. Seperti botol kosong yang terisi dengan tetesan air sedikit demi sedikit dan akhirnya luber karena kepenuhan. Mungkin begitulah diriku hari ini bisa kugambarkan.
Tapi tak apa... Yang sudah terjadi terjadilah. Aku menyesal? 

Sedikit mungkin karena aku harus memukulmu untuk memberi pelajaran agar kamu berhenti untuk menyakiti orang lain. Dan orang yang tersakiti akan mampu melakukan apa saja untuk mempertahankan harga diri yang dipunyainya.

Sabtu, 27 Agustus 2011

You're So Special To Me


“Masih ingat kan kejadian tahun 1999 dulu? Kamu sudah menjagaku, mengurusku dan aku tahu, hatimu sangat baik buat adik-adikmu. Aku mencintaimu melebihi apapun. Apa yang kulakukan sekarang ini tidak sebanding dengan apa yang sudah pernah kamu berikan padaku. Aku ini benar-benar tak bisa menjaga diriku sendiri. Entah sampai kapan aku bisa hidup terus dan berada disisi kalian. Tapi kelak jika aku tak ada, hanya satu yang kumohon, tolong jagakan anakku.  Tolong ingatkan dia, aku pernah berjuang seperti ini untuk keluarga ini. Aku pernah dengan segenap jiwaku mencintai anakku, mencintai kalian. 
Bagiku, apapun di dunia ini tidak akan pernah ada harganya jika kalian tidak ada bersamaku.”

33 tahun aku besar bersamanya, tidak pernah sekalipun aku melihatnya menangis seperti malam itu. Cetakan wajahnya melekat dihatiku dan membuatku tak bisa untuk tak meneteskan airmata. 29 tahun kami nyaris bersama, kami saling selalu ada satu sama lain. Dan baru kali ini aku dapat membaca hatinya seperti lembaran halaman buku yang terpampang di depan mataku.

Aku tahu perjuangannya begitu berat. Ia menjadi tulang penopang rumah yang berdiri sendirian di tengah-tengah. Ia menjadi tempat semua orang bertumpu. Aku tahu betapa berat bebannya. Aku tahu betapa banyaknya lagi kata yang tak terucap dri hatinya. Ia yang tak terbiasa melampiaskan rasa. Ia yang selalu menyimpan segala beban dipunggungnya yang mulai ringkih. Ia yang 29 tahun terlihat jauh lebih tua dariku yang 33 tahun. Ia adikku. Adik kesayanganku.

***

Hampir setahun ini aku hidup bersamanya. Bersama dengan keluarga yang dicintainya. Aku melihat bagaimana perjuangannya. Namun baru malam ini aku tahu sebagian kecil sudut hatinya. Pojokan tersembunyi yang mungkin selama ini disimpannya rapat-rapat. 

Begitu sering ia meninggalkan rumah untuk pekerjaannya. 

“Kadang kupikir, aku sangat lelah dengan kehidupan seperti ini. Kejayaan memang sedang berada ditanganku. Semua terlihat begitu mudah kudapatkan. Tapi sampai kapan limpahan rejeki ini terus mengalir kepadaku, aku tak pernah tahu. Tiap malam rasanya pikiranku tak pernah berhenti berputar. Tiap malam kecamukan pikiran menghantuiku. Nyaris membuatku takut untuk memejamkan mata. Aku mengkhawatirkanmu. Aku ingin mewujudkan keinginanmu untuk membawa anakmu bersamamu. Aku ingin mengobati papa. Aku ingin menguliahkan adik bungsu kita sampai selesai. Aku ingin melihat anakku menyelesaikan sekolahnya hingga tingkat tertinggi yang diinginkannya. Berpuluh ribu keinginan. Langkahku lelah, tapi aku harus terus berlari.”

Yang aku tahu, penyesalan tak ada habisnya terbayang diwajahmu, ketika saat kelahiran anakmu, kamu tak ada disisi istrimu. Kamu hanya dapat memasrahkan moment penting itu padaku. Aku tahu pula, saat kamu berbulan-bulan jauh dari keluargamu, Betapa rindu membuatmu menderita hingga nyaris tak tertahankan. Dan saat itu aku hanya bisa membantumu dengan terus berada di tengah-tengah keluargamu.

Adikku, maafkan aku. Saat ini aku sungguh tak mampu memikul sedikit saja beban segunung yang ada di pundakmu. Tapak kaki yang kuinjak masih di tangga terbawah, begitu jauh aku tertinggal darimu yang melesat begitu kencangnya.

Aku janji, suatu saat aku akan membuatmu bangga. Sungguh. Suatu saat kamu akan melihat,  aku, kakakmu, akan melangkah sejajar bersamamu, dan ketika waktu itu tiba, bagilah sedikit bebanmu itu padaku. Aku akan meringkankan langkahmu. Karena itu, tunggulah. Aku janji, aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk menyusulmu. Tunggulah. Jangan pernah kau meninggalkan aku. 

Dari apapun diseluruh muka bumi ini, kamu memiliki tempat teristimewa dalam hatiku.

Aku menyayangimu selamanya.


@Semarang, 28 Agustus 2011
Dedicated for my lovely brother

Senin, 22 Agustus 2011

MENULIS ITU MUDAH? MASA?

Gambar di pinjam dari hady82.multiply.com

 Benarkah menulis itu semudah kita mengucapkan kata demi kata? Bagi penulis-penulis pemula seperti diriku, menulis masih tetaplah memerlukan perjuangan dan usaha yang sedemikian kerasnya agar dapat menghasilkan satu karya.

Hanya satu karya? Yup!



Hanya menghasilkan satu karya saja aku harus berjuang keras untuk merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat dan menjadikannya satu cerita utuh yang tertata dengan rapi dan runut.

Tapi itu dulu.... 
 
Dari begitu banyak buku tentang teori menulis yang kubaca serta dari berkali-kali ikut kursus menulis baik secara online maupun offline, sebenarnya menulis itu sangat mudah. Benar-benar mudah hingga kita bisa menuliskan setiap katanya seperti kita mengucapkan kata-kata itu secara langsung. Masa semudah itu?

Menulis itu sangat mudah, asalkan .......................

  • Punya Tujuan dan Impian
Menetapkan tujuan yang ingin dicapai sangatlah penting. Hampir disemua bidang kehidupan membutuhkan alasan mengapa kita sampai rela dan senang hati melakukannya. Dengan adanya tujuan maka motivasi di dalam diri dapat terus membara dan itu membuat kita melakukan kegiatan apapun akan terasa ringan dan menyenangkan. Begitu juga dengan menulis.

“Apa tujuanmu menulis?”

Aku pernah memikirkan pertanyaan itu hampir berbulan-bulan. Apa sebenarnya tujuanku menulis hingga aku rela kehilangan begitu banyak waktu istirahatku hanya untuk duduk di depan komputer, berjam-jam memegang buku dan pensil, kadang tanpa menghasilkan satu katapun yang dapat kutulis.

Dan tujuanku menulis adalah “menyembuhkan”......  Heran?
Dulu aku juga tak percaya bahwa kegiatan menulis itu dapat memberikan “kesembuhan”. Namun kenyataannya, begitu banyak luka hati, kenangan-kenangan yang menyakitkan yang pernah berakar dan mendarah daging di hati akhirnya tumpah ruah dalam berlembar-lembar kertas.

Setelah menuliskannya apa yang kita dapat?

Hanya perasaan lega setelah semua emosi yang terpendam lama tersebut dapat dikeluarkan dengan menuliskannya.

Tujuan dapat berkembang seiring dengan perkembangan diri kita. Pada saat kita sudah mulai mampu menumpahkan kata-kata yang berseliwaran dalam benak kita, Alangkah baiknya jika hasil tulisan itu dapat dibaca orang lain. Dengan dibaca orang lain, kita bisa berbagi hikmah yang terkandung dalam tulisan kita, siapa tahu diluar sana ada orang lain yang mengalami cerita yang sama dengan yang kita tuliskan. Membiarkan orang lain membaca tulisan kita juga bertujuan agar kita tahu kelemahan dan kelebihan karya tulis kita.

Malu? Takut?

Wajar.... Pasti ada rasa malu dan takut saat tulisan kita dibaca orang lain. Tapi ketakutan yang terbesar adalah bahwa sebenarnya diri kitalah yang tak mampu menghadapi kenyataan saat tulisan kita di kritik, saat ada yang berkata bahwa tulisan kita jelek. Intinya takut dan malu itu berasal dari ketidaksiapan kita untuk menerima kritik. Padahal satu kritikan kecil akan mampu membuat kita menjadi lebih berkembang.

Dan kini, tujuanku mulai mengarah menjadi sebuah cita-cita. Keinginan untuk mencapainya. Aku ingin suatu saat benar-benar menanggalkan status sebagai “ orang bayaran” dan menjadi “bos” bagi diriku sendiri melalui tulisan-tulisanku. Aku ingin tinggal di rumah, menikmati waktu lebih banyak lagi bersama keluargaku dan mendapatkan penghasilan dari menulis. Sebuah impian akan mampu membuat kita kembali berdiri saat terjatuh, membuat kita seteguh batu karang walau tetesan airmata membanjir karena banyaknya kerikil-kerikil yang harus dilalui. Satu impian kecil akan dapat memindahkan memindahkan gunung.

Nah, apa tujuanmu? Sudahkah kau tetapkan impianmu?

  • Seperti Bernafas, Menulis Itu Hanyalah Kebiasaan.
Pernahkan kita berpikir secara sengaja saat kita hendak menarik dan mengeluarkan udara dari paru-paru kita? Kita nyaris tak menyadari helaan nafas yang keluar masuk secara otomatis. Naluri? Mungkin. Tapi menurutku itu bukan hanya sekedar naluri. Bernafas adalah kebiasaan. Minum juga merupakan kebiasaan. Bangun tidur dan langsung membersihkan tempat tidur juga merupakan kebiasaan. Kebiasaan terbentuk dari pola yang terus diulang-ulang.

Coba lihat... Saat kita mengajarkan pada seorang anak kecil, bahwa saat bangun tidur, ia harus segera merapikan tempat tidur, lalu masuk ke kamar mandi untuk mandi dan menggosok gigi. Mungkin dihari pertama ia tak melakukannya. Mungkin di hari kedua, ia hanya mampu merapikan tempat tidurnya saja dan melupakan kegiatan berikutnya. Setelah satu bulan, akhirnya ia merapikan tempat tidurnya, masuk ke kamar mandi dan mandi tapi melupakan gosok gigi. Begitu seterusnya.

Kebiasaan akan terbentuk jika terus mengulang-ulangnya menjadi suatu kegiatan yang setiap hari harus kita lakukan. Begitu pula dengan menulis.

Jika kita menjadikan kegiatan menulis menjadi suatu kebiasaan, menulis apapun yang kita inginkan akan menjadi sangat mudah. Menulis menjadi semudah kita menarik nafas. Mungkin pada awalnya, kita hanya menuliskan satu kata, berikutnya satu kalimat. Kumpulan kalimat-kalimat itu akan membentuk paragraf. Dan suatu saat kita akan mampu menuliskan berpuluh-puluh bahkan berjuta-juta paragraf dengan sangat mudah.

Kebiasaan menulis itulah yang harus kita mulai dari sekarang jika kita bercita-cita menjadi seorang penulis. Tidak mudah pada awalnya bukan berarti tidak bisa.

  • Bingung Cari Ide?
“Haduhhh, mau menulis apaan nih? Gak ada ide sama sekali!!!”

Keluhan seperti ini sering kali terucap. Lihat saja di komunitas penulis yang tersebar di dunia maya, keluhan seperti itu sangatlah tidak asing. Hampir tiap hari ada saja yang mengeluhkan kalimat itu. Termasuk aku.

Namun setelah aku mengetahui bagaimana caranya mendapatkan ide, keluhan itu berangsur-angsur menghilang dari kamusku.

Ide itu dimana-mana. Di jalanan yang kita lalui, di rumah, di tempat kerja, dimana-mana selalu ada kejadian, orang atau situasi yang dapat dijadikan ide. Ide bertebaran di sekitar kita, tinggal kitanya saja peka atau tidak menangkap ide.
Ide datangnya bagai sambaran kilat di langit. Sekejap muncul dan sekejap pula hilang. Karena itu setiap ide yang muncul harus secepatnya kita tangkap agar tak hilang.

Bagaimana menangkap ide?

Sediakan selalu buku dan pena. Begitu ide muncul, segeralah tulis dalam buku itu. Setiap ide yang muncul tidak harus langsung jadi satu cerita atau naskah. Kita dapat mengumpulkannya dulu dan kelak dapat kita olah menjadi karya tulis kita.

Seperti artikel yang kutulis kali ini, ide ini muncul saat aku membaca beberapa buku tentang teori menulis beberapa waktu yang lalu. Dan malam ini, ketika aku membuka buku kecilku, aku langsung teringat akan ide untuk menulis tentang artikel ini.

Karena itu, tabungan ide yang kita kumpulkan sedikit demi sedikit merupakan aset berharga bagi seorang penulis. Tidak ada ceritanya seorang penulis akan kehabisan ide jika ia rajin menabung ide sedikit demi sedikit.

  • The Magic Of 3N
Setelah menulis menjadi kebiasaan, setelah kita mulai rajin mengumpulkan ide-ide yang bertebaran, selanjutnya adalah mengolah ide-ide tersebut menjadi naskah. Bagi penulis yang baru belajar seperti diriku, mengolah ide tetap saja memiliki kesulitan tersendiri. Kadang kita masih bingung akan menulis dari mana? Bingung untuk memulai menulis dari sisi yang mana? Benar kan?

Dari buku “Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang karya Andrias Harefa, ada satu bagian buku itu yang menyebutkan ungkapan yang ditulis oleh Mardjuki yaitu 3N : Niteni, Nirokke, Nambahi (Mengamati, Menirukan dan Menambahi).

Kita bisa belajar dari karya-karya penulis lain. Amatilah bagaimana penulis tersebut memulai ceritanya, pelajari temanya, bagaimana ia memulai dan mengakhiri konflik dan bagaimana ia meng-ending-kan suatu cerita.

Setelah itu, mulailah meniru. Meniru disini bukan berarti mencontek atau meng-copy paste seperti aslinya. Meniru disini berarti belajar untuk menuliskan kembali apa yang sudah kita baca dengan kata-kata dan gaya bahasa kita sendiri. Dengan menuliskan kembali bacaan yang telah kita baca dengan cara kita sendiri, berarti kita telah mengikat makna dari bacaan tersebut.

Yang terakhir adalah menambahi. Naskah yang telah kita tulis tersebut dapat kita gali lebih dalam dengan melengkapi pembahasan yang sudah ada dengan berbagai materi baru. Materi baru tersebut bisa kita dapatkan dari berbagai sumber referensi misalnya saja buku-buku yang sesuai dengan bahan yang sedang kita tulis, dari berbagai koran dan media televisi.

  • “Makanan Bergizi” Untuk Penulis
Penulis harus memenuhi kebutuhannya akan “makanan bergizi”. Tanpa makanan bergizi ini, penulis akan kekurangan bahan-bahan untuk tulisannya.

Apa makanan bergizi bagi seorang penulis?

Membaca... Membaca... dan ......... Membaca.

Syarat menjadi seorang penulis yang baik adalah bahwa ia juga merupakan seorang pembaca yang baik. Menulis dan membaca adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Dengan membaca kita akan menambah atau memperkaya kosakata yang kita miliki. Dengan membaca pula kita mendapatkan berbagai referensi yang dapat melengkapi tulisan-tulisan kita. Banyak membaca membuat kita akan memiliki pengetahuan yang tak terbatas. Pepatah “ Membaca adalah jendela dunia” adalah benar, bahwa semakin banyak kita membaca, maka kita akan semakin banyak tahu apa saja isi dunia ini.

  • Three M
Istilah 3M semakin naik daun akhir-akhir ini. 3M = Menulis... Menulis... Menulis! (dan dapat pula berarti Membaca... Membaca.... Membaca....)

Impian untuk menjadi seorang penulis tidak akan pernah terwujud jika kita tidak pernah menulis. Sebanyak apapun buku teori tentang menulis yang kita baca, tidak akan pernah dapat membuat kita menjadi seorang penulis tanpa kita sendiri pernah dan mau menulis. Berpuluh-puluh kali ikut kursus menulis baik online maupun offline akan percuma dan jadi ajang buang-buang uang saja jika satu karya tulis pun tak pernah kita hasilkan.

Kuncinya menjadi seorang penulis akhirnya hanya menulis, menulis dan menulis. Semakin banyak kita menulis, maka akan semakin lancar dan mudah kita menulis.

Jadi.... Tulislah apa saja. Menulislah sebanyak yang kamu bisa. Berlatihlah terus dengan menjadikan menulis, menulis dan menulis menjadi bagian dari hidup.
Maka, menulis akan menjadi sangat mudah.

Yuk Menulis!!!

@tengah malam di Surabaya
22 Agustus 2011

Jumat, 12 Agustus 2011

PEMBERDAYAAN IBU-IBU RUMAH TANGGA DI FACEBOOK

Salah satu buku Antologi karya Ibu-Ibu Doyan Nulis
PRESS RELEASE

Pemberdayaan Ibu-Ibu Rumah Tangga di Facebook



FACEBOOK bukan hanya urusan STATUS nggak penting, Facebook bisa jadi lahan pemberdayaan perempuan juga. Grup Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) salah satu grup yang serius melakukan hal ini. Grup yang berdiri di bulan Mei 2010 ini didirikan oleh seorang Ibu Rumah Tangga yang juga menekuni bisnis Agensi Naskah dengan nama Indscript Creative kini beranggotakan hampir 5000 orang ibu. 

Ibu Rumah Tangga itu bernama Indari Mastuti memang mantap melakukan pemberdayaan perempuan secara online dengan bidang pekerjaan MENULIS. 

Ya, menulis!


MENULIS merupakan salah satu kegiatan yang sebetulnya bisa dilakukan oleh semua orang. Sayangnya, kebanyakan orang sebelum memilih menjadi penulis sudah merasa bahwa dirinya ‘tidak berbakat’ untuk menulis. Padahal, hanya dengan konsistensi dan komitmen menjalankan aktifitas menulis setiap hari, akan membuat setiap orang terlatih menuliskan apa yang ada di kepalanya.


Profesi menulis yang dianggap hanya orang yang ‘berbakat’ yang bisa menjalankannya akan dikampanyekan sebagai satu profesi yang semua bisa melakukannya, termasuk IBU-IBU RUMAH TANGGA. Malah, justru dilatarbelakangi oleh aktifitas ibu-ibu yang hanya sumur-dapur-kasur, aktifitas menulis akan menjadi satu bagian keseharian yang kelak akan menghasilkan lebih dari sekadar karya. Ibu-ibu yang akhirnya memilih jalur menulis sebagai aktifitas keseharian tanpa meninggalkan rumah, akan mengalami lonjakan PRODUKTIFITAS baik secara ilmu, karya, maupun materi. Hadirnya grup ibu-ibu doyan nulis akhirnya dilatarbelakangi niat untuk meningkatkan produktifitas para ibu di berbagai hal.

Anggota IIDN yang kebanyakan ibu rumah tangga itu diajari bagaimana cara membuat outline yang baik agar dapat menembus dan menarik hati penerbit, bagaimana cara menghasilkan tulisan yang baik dari ide-ide sederhana yang ada di sekitar. Di IIDN, anggotanya juga diberikan pelatihan-pelatihan menulis secara berkala baik secara online, maupun offline. Secara nasional maupun per wilayah masing-masing.


Karena semakin bertambahnya anggota Grup IIDN dari hari ke hari yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia bahkan hingga ke mancanegara, maka diputuskanlah untuk membagi IIDN ke dalam wilayah-wilayah yang masing-masing dipimpin oleh Koordinator Wilayah (KORWIL) yang telah ditunjuk. Kini sudah ada sekira 22 Kordinator Wilayah di berbagai wilayah Indonesia serta luar negeri yang berpusat di Jepang. Masing-masing korwil bertugas untuk mengatur arus informasi yang berasal dari Pusat ke Wilayah ataupun sebaliknya. Dalam waktu dekat IIDN akan membuka 25 korwil di 25 negara di dunia.


Saat ini, proyek terbaru yang sedang dikerjakan oleh para anggota IIDN adalah beberapa proyek penulisan buku antologi (kumpulan kisah). Beberapa di antaranya yaitu :
  1. Storycake For Ramadhan (Penerbit, Gramedia Pustaka Utama, 2011). Buku antologi terbaru anggota grup IIDN yang berisikan 44 kisah-kisah indah dan inspiratif seputar Ramadhan yang menyentuh hati. Ditulis oleh 43 orang kontributor yang 99% adalah anggota grup IIDN. Saat ini sudah selesai cetak dan telah beredar di took-toko buku besar di Seluruh Indonesia.
  2. For The Love of Mom (Penerbit ETERA, 2011) sedang dalam proses percetakan. Sebuah antologi tentang betapa hebatnya perempuan sebagai ibu. Banyak kisah menyentuh yang akan membuat kita merindukan bunda nun jauh di sana.
  3. EMAK GOKIL, (Penerbit Rumah Ide, 2011) sebuah antologi tentang kisah-kisah konyol seputar kehidupan rumah tangga sehari-hari yang dialami oleh para ibu rumah tangga.
  4. KAMUS INDONESIA (Penerbit Sygma Eksamedia, 2011). Merupakan proyek besar di Grup IIDN yang melibatkan lebih dari 100 orang ibu-ibu/perempuan yang tersebar di seluruh Indonesia yang kesemuanya merupakan anggota IIDN. Hal ini merupakan hal pertama yang pernah terjadi dalam dunia penulisan di Indonesia dimana sebuah kamus lengkap serupa Ensiklopedia tentang kebudayaan dan adat istiadat lengkap di Indonesia, dikerjakan oleh begitu banyak penulis dan semuanya kebanyakan adalah ibu rumah tangga.

Kegiatan umum GRUP IIDN selain mengadakan pelatihan-pelatihan kepenulisan untuk umum dan anggota, kami juga mengadakan event-event seperti misalnya :
  1. Mengikuti event-event bazaar, selain untuk mensosialisasikan komunitas kami, juga untuk menjual buku-buku hasil karya anggota Grup IIDN.
  2. Kopdar (Kopi Darat) pertemuan tidak rutin antar anggota IIDN baik yang ada dalam wilayah yang sama ataupun secara nasional.
  3. Mengadakan baksos dan kegiatan-kegiatan lain yang bermanfaat. Seperti misalnya pada bulan Ramadhan seperti ini. Insya Allah di pertengahan Ramadhan, Grup IIDN akan mengadakan bakti sosial bekerja sama dengan sponsor dan seluruh anggota IIDN di seluruh Indonesia.

Pada akhirnya, Indscript Creative selaku Perusahaan Agensi Penerbitan Naskah dengan Indari Mastuti sebagai CEO nya, yang membawahi Grup IIDN ini, mencoba mengeluarkan potensi kaum ibu rumah tangga yang selama ini selalu dianggap tak memiliki kemampuan lebih, menjadi ibu-ibu dan wanita yang produktif di mana mereka tidak hanya menghasilkan karya yang dapat dibaca orang banyak, melainkan juga dapat menghasilkan materi yang akan membantu perekonomian keluarga.


Marketing Communication

Lygia Nostalina, SH

 

Profil Pendiri GRUP IBU-IBU DOYAN NULIS

Indari Mastuti, lahir di Bandung,  Jawa-Barat, 09 Juli 1980. Berdomisili di Jl. PLN Dalam I No.1/203D,Moh Toha, Bandung. Rumah yang juga sekaligus menjadi pusat aktifitas IIDN ini semakin memantapkan eksistensinya sebagai Ibu Rumah Tangga yang doyan bisnis J. Memiliki pengalaman kerja mulai dari Jurnalis Tabloid Indonesia-Indonesia, Marketing, hingga akhirnya menjadi Direktur Pemasaran dan Redaksi Indscript Creative. Pengalaman menulis sejak tahun 1996 sebagai penulis artikel dan koresponden di berbagai media, dan kini menjadi mentor pelatihan penulisan di berbagai tempat. Telah menelurkan lebih dari 60 judul buku.



Profil Usaha


Indscript Creative didirikan karena keinginan dari calon Ibu yang ingin total bekerja di rumah. Meninggalkan hiruk-pikuk dunia karir demi mengurus keluarga. Berpikir untuk mencari bisnis apa yang bisa dikerjakan di rumah dan sesuai dengan minat yang dimiliki. Kebetulan hobi dan minat menulis mendorongnya untuk menjadikan profesi menulis menjadi sumber penghasilan.

Seiring berjalannya waktu, Indscript Creative pun terus berkembang. Indscript Creative mulai dibangun pada akhir tahun 2007. Ketika pertama kalinya didirikan, fokus pasar Indscript Creative adalah bidang penerbitan. Indscript Creative memposisikan diri sebagai agensi naskah, yaitu menjadi mediator antara penulis dengan penerbit, antara penerbit dengan penulis. Indscript Creative mengemas naskah supaya lebih cantik dan bernilai jual.

Kini, Indscript Creative memiliki 30 klien penerbit, 4 klien korporat, dan 2 klien Institusi pendidikan. Memiliki kerjasama dengan lebih dari 214 penulis aktif, 5 studio gambar, dan telah menetaskan lebih 400 judul buku di pasar bebas.



Pendapat Para Penulis Indscript Creative

Indscript Creative membuat saya bersemangat menulis. Buku solo saya yang pertama terbit setelah bergabung dengan mereka. Pelatihan-pelatihan yang saya ikuti membuka wawasan saya mengenai kepenulisan. Saya juga belajar menulis skenario dari pelatihan tersebut. Indscript Creative memang hebat! Saya takkan ingin berhenti menulis karenanya.
(Fitha Chakra, Penulis Buku Anak, Depok)


Indari membuat saya tergerak menekuni dunia menulis secara serius. Meskipun ada sedikit keraguan untuk memulai ketika itu, tapi ia tak henti menyemangati saya. Sejak saat itu naskah demi naskah terus berdatangan. Ide dan inspirasi menulis makin hari makin mengalir deras seiring kualitas tulisan yang bertambah baik. Terima kasih banyak kuucapkan untuk adikku yang hebat ini. Semangat, tekad, ketekunan, dan kerja kerasnya menjadi inspirasi bagi saya dan banyak orang. Be inspired, stay positive.
(Astri Novia, Penulis Buku Populer, Bandung)

Pertama kali saya tahu Indscript Creative karena dikenalkan oleh teman. Setelah gabung, saya langsung merasa nyaman. Indari, owner-nya, ramah dan friendly. Dalam waktu singkat, saya dan Iin menjadi akrab seperti sudah lama kenal. Lalu, yang paling penting adalah bahwa bergabung bersama Indscript jadi sering diorder untuk membuat naskah.
(Nunik Utami, Penulis Buku Anak, Jakarta)


Bagi saya, indscript itu sahabat sejati yang membantu banget. Saya nggak perlu capek2 mikirin penerbit, nentuin tema, bikin perjanjian dan urusan tetek bengek lainnya. Saya cukup fokus nulis saja, lainnya...serakan pada ahlinya :) (whoaaaa....iklan banget ya :)
(Firmanawaty Sutan, Penulis Buku Sains dan Life Skill, Jakarta)

Indscript sangat membantu saya dalam mengembangkan potensi dan kemampuan dalam menulis. Dengan bantuan dan profesionalisme Indscript, saya menjadi sangat terbantu dalam menerbitkan buku dengan kualitas terbaik. Selain itu, Indscript sangat membantu saya dalam meningkatkan angka kredit jabatan peneliti :D. Sukses selalu buat tim Indcript.
(Hanif Fakhrurroja, Penulis IT dan Bisnis, Bandung)

Dulu, aku sering kebingungan untuk nyalurin ide-ide tulisan yang udah numpuk di file dan di kepala. Mau langsung ke penerbit ga pede. Tapi setelah ada Indscript, ga gitu lagi. Jelas, kini semua ide bisa dicairkan menjadi penghasilan yang tidak sedikit. Apalagi untuk ukuran ibu-ibu pengangguran macam aku. Setiap bulan, Indscript selalu memberiku penghasilan. Jadi makin ogah deh kerja kantoran lagi. Yuk berkarya di rumah via Indscript :p
(Nia Haryanto, Penulis Sains dan Kesehatan, Bandung)