Mamaku sayang,
Apa kabarmu hari ini? Baik-baik sajakah?
Walau tak baikpun pasti akan selalu kau jawab baik-baik saja.
Seburuk apapun keadaanmu, sebesar apapun masalah yang kau hadapi.
Semua akan kau ucapkan baik-baik saja.
Engkau selalu menutupi isi hatimu.
Yang kau inginkan hanya kebahagiaan suamimu, anak-anak dan cucu-cucumu.
Kepentingan keluargamu selalu yang utama bagimu.
Tak peduli jika kepentinganmu harus tertunda entah sampai kapan.
Ma, nyatanya keadaanmu tak baik-baik saja seperti yang kau katakan, kan?
Ada penyakit di tubuhmu.
Menggerogoti tubuh ringkihmu yang menginjak ke tangga senja.
Ada kesakitan yang kau tahan, hingga akhirnya sering terucap
karena kau tak sanggup menanggungnya lagi.
Dan lagi-lagi.... Itu kau bilang baik-baik saja!
Ma, dalam sakitpun kau tertawa.
Saat sedihpun kau hanya diam
Tapi engkau tak akan pernah bisa menutupinya dariku, Ma.
Aku merekam jejak langkahmu sejak masa kanak-kanakku
Aku melihat rembesan airmatamu yang menetes diam-diam
Aku melihat luka-luka yang kau kubur perlahan
Namun diantara semua itu aku melihat lautan cinta
Tanpa syarat....
Lebih luas dari samudra
Ma, apa kata dokter?
Sungguh, Ma, untuk kali ini saja.
Jangan lagi-lagi kau katakan semuanya baik-baik saja.
Kenapa tangan kirimu, Ma?
Kenapa dada kirimu?
Sakitnya seperti apa?
Sakit sekali kah?
Ceritakan semuanya, Ma
Aku tak ingin semuanya terlambat
Aku tak ingin semua yang baik-baik saja itu akan sangat buruk kenyataannya.
Ma......
Saat ini namamu terus terucap
Ma.....
Ma....
Maaaaaaaaaaaaaaaa
Tolong! Jangan pernah yang buruk itu terjadi
Ma... Jangan, Ma...
Aku belum siap.... dan tak akan pernah siap.
Ma.....
Surabaya, 27 November 2011

