Tak dihargai itu memang tidak mengenakkan. Tapi jika dipikir tentang harga diri, berapa sih sebenarnya harga diri yang kita mau? Tidak ada patokan tentang harga diri yang sesungguhnya. Yang ada hanyalah rasa egois kita dimana kita merasa terganggu kepentingan kita akibat ada orang lain, entah keluarga, saudara atau bahkan orang yang tak kita kenal membuat perasaan kita tak nyaman
Seperti kejadian tadi.
Tidak ada maksud sebenarnya akan ungkapan atau saran apapun yang terucap dari mulut kepada calon adik iparku itu. Ketika adik laki-laki nomor 4ku memberitahu bahwa ada lowongan pekerjaan di Pertamina, aku langsung menyeletuk saja ,” ituloh adiknya temenku kerja di Pertamina malah bergaji besar, sayang kalau tak dicoba.”
“Mana ada lulusan fresh graduate yang langsung dibayar mahal. Ga mungkin. Mana buktinya?”
Sebagai seorang kakak tertua, kalimat yang dilontarkannya itu membuat ulu hatiku tertohok. Tidak pernah ada maksud memberikan informasi palsu atau hanya sekedar gaya-gayaan bahwa memang adik temanku itu bekerja di Pertamina bergaji besar padahal baru lulus. Tidak ada untungnya buatku. Aku menjadi merasa tidak dipercaya. Merasa di remehkan dan tidak dihargai sebagai seorang kakak.
Memang, diantara lima bersaudara, sebagai kakak paling tua, aku belum menunjukkan prestasi apapun yang dapat membanggakan orang tua dan keluarga besarku. Hanya lulusan SMA, menikah lalu bercerai. Dan sekarang menumpang hidup di rumah adikku yang nomor 2 yang sudah berkeluarga. Kenyataan yang memang benar ini akhirnya membuatku menjadi perasa. Singgungan masalah sedikit saja seperti cerita di atas langsung membuatku tiba-tiba merasa berkecil hati, merasa orang gagal yang tidak bisa dibanggakan atau mungkin membuat malu keluarga.
Lalu jika rasa tidak dihargai itu membuat aku menjadi semakin terpuruk? Sepertinya itu salah besar. Seharusnya aku bangkit untuk membuktikan bahwa dengan kondisiku yang sekarang ini, aku mampu berkarya dan suatu saat aku mampu mandiri dan hidup dengan kondisi lebih baik dari saat ini.
Seharusnya “gesekan-gesekan” kecil masalah harga diri itu semakin memacu semangatku untuk bekerja dua kali lipat lebih keras, dua kali lipat lebih banyak atau berkali-kali lipat dari yang sudah kulakukan sekarang.
Dan akibat dari itu semua, seharusnya aku semakin terlatih untuk mengelola emosi, menahan diri dan selalu melihat sisi positif dari segi manapun. Belajar untuk memilah-milah masalah dari sudut pandang lain, melihat diluar kotak.
Anggap saja, walau aku hanya seorang lulusan SMA. Saat ini aku sedang kuliah di sebuah universitas yang namanya Universitas Kehidupan. Dimana aku ditempa untuk menjadi manusia yang lebih baik secara materi dan rohani. Dimana saat ini aku diajari untuk bersabar, menerima segala gesekan sebagai suntikan semangat positif, belajar memahami berbagai karakter orang dan belajar sebanyak mungkin tentang kehidupan.
Suatu saat, aku yakin. Allah tidak akan membiarkan keadaan ini terus ada dalam hidupku. Sampai saat ini, aku masih berharap “ Semua akan indah pada waktunya.”
Dan suatu saat jika ada yang berani bertanya kepadaku, “berapakah harga diriku sebenarnya?”
Aku hanya tinggal menjawab, “ Wani pira?” :p
Surabaya, 11 Agustus 2011-08-12
@Masih di rumah tumpangan Delta Mandala
Tidak ada komentar:
Posting Komentar