 |
| Gambar di pinjam dari hady82.multiply.com |
Benarkah menulis itu semudah kita mengucapkan kata demi kata? Bagi penulis-penulis pemula seperti diriku, menulis masih tetaplah memerlukan perjuangan dan usaha yang sedemikian kerasnya agar dapat menghasilkan satu karya.
Hanya satu karya? Yup!
Hanya menghasilkan satu karya saja aku harus berjuang keras untuk merangkai kata demi kata, kalimat demi kalimat dan menjadikannya satu cerita utuh yang tertata dengan rapi dan runut.
Tapi itu dulu....
Dari begitu banyak buku tentang teori menulis yang kubaca serta dari berkali-kali ikut kursus menulis baik secara online maupun offline, sebenarnya menulis itu sangat mudah. Benar-benar mudah hingga kita bisa menuliskan setiap katanya seperti kita mengucapkan kata-kata itu secara langsung. Masa semudah itu?
Menulis itu sangat mudah, asalkan .......................
Menetapkan tujuan yang ingin dicapai sangatlah penting. Hampir disemua bidang kehidupan membutuhkan alasan mengapa kita sampai rela dan senang hati melakukannya. Dengan adanya tujuan maka motivasi di dalam diri dapat terus membara dan itu membuat kita melakukan kegiatan apapun akan terasa ringan dan menyenangkan. Begitu juga dengan menulis.
“Apa tujuanmu menulis?”
Aku pernah memikirkan pertanyaan itu hampir berbulan-bulan. Apa sebenarnya tujuanku menulis hingga aku rela kehilangan begitu banyak waktu istirahatku hanya untuk duduk di depan komputer, berjam-jam memegang buku dan pensil, kadang tanpa menghasilkan satu katapun yang dapat kutulis.
Dan tujuanku menulis adalah “menyembuhkan”...... Heran?
Dulu aku juga tak percaya bahwa kegiatan menulis itu dapat memberikan “kesembuhan”. Namun kenyataannya, begitu banyak luka hati, kenangan-kenangan yang menyakitkan yang pernah berakar dan mendarah daging di hati akhirnya tumpah ruah dalam berlembar-lembar kertas.
Setelah menuliskannya apa yang kita dapat?
Hanya perasaan lega setelah semua emosi yang terpendam lama tersebut dapat dikeluarkan dengan menuliskannya.
Tujuan dapat berkembang seiring dengan perkembangan diri kita. Pada saat kita sudah mulai mampu menumpahkan kata-kata yang berseliwaran dalam benak kita, Alangkah baiknya jika hasil tulisan itu dapat dibaca orang lain. Dengan dibaca orang lain, kita bisa berbagi hikmah yang terkandung dalam tulisan kita, siapa tahu diluar sana ada orang lain yang mengalami cerita yang sama dengan yang kita tuliskan. Membiarkan orang lain membaca tulisan kita juga bertujuan agar kita tahu kelemahan dan kelebihan karya tulis kita.
Malu? Takut?
Wajar.... Pasti ada rasa malu dan takut saat tulisan kita dibaca orang lain. Tapi ketakutan yang terbesar adalah bahwa sebenarnya diri kitalah yang tak mampu menghadapi kenyataan saat tulisan kita di kritik, saat ada yang berkata bahwa tulisan kita jelek. Intinya takut dan malu itu berasal dari ketidaksiapan kita untuk menerima kritik. Padahal satu kritikan kecil akan mampu membuat kita menjadi lebih berkembang.
Dan kini, tujuanku mulai mengarah menjadi sebuah cita-cita. Keinginan untuk mencapainya. Aku ingin suatu saat benar-benar menanggalkan status sebagai “ orang bayaran” dan menjadi “bos” bagi diriku sendiri melalui tulisan-tulisanku. Aku ingin tinggal di rumah, menikmati waktu lebih banyak lagi bersama keluargaku dan mendapatkan penghasilan dari menulis. Sebuah impian akan mampu membuat kita kembali berdiri saat terjatuh, membuat kita seteguh batu karang walau tetesan airmata membanjir karena banyaknya kerikil-kerikil yang harus dilalui. Satu impian kecil akan dapat memindahkan memindahkan gunung.
Nah, apa tujuanmu? Sudahkah kau tetapkan impianmu?
- Seperti Bernafas, Menulis Itu Hanyalah Kebiasaan.
Pernahkan kita berpikir secara sengaja saat kita hendak menarik dan mengeluarkan udara dari paru-paru kita? Kita nyaris tak menyadari helaan nafas yang keluar masuk secara otomatis. Naluri? Mungkin. Tapi menurutku itu bukan hanya sekedar naluri. Bernafas adalah kebiasaan. Minum juga merupakan kebiasaan. Bangun tidur dan langsung membersihkan tempat tidur juga merupakan kebiasaan. Kebiasaan terbentuk dari pola yang terus diulang-ulang.
Coba lihat... Saat kita mengajarkan pada seorang anak kecil, bahwa saat bangun tidur, ia harus segera merapikan tempat tidur, lalu masuk ke kamar mandi untuk mandi dan menggosok gigi. Mungkin dihari pertama ia tak melakukannya. Mungkin di hari kedua, ia hanya mampu merapikan tempat tidurnya saja dan melupakan kegiatan berikutnya. Setelah satu bulan, akhirnya ia merapikan tempat tidurnya, masuk ke kamar mandi dan mandi tapi melupakan gosok gigi. Begitu seterusnya.
Kebiasaan akan terbentuk jika terus mengulang-ulangnya menjadi suatu kegiatan yang setiap hari harus kita lakukan. Begitu pula dengan menulis.
Jika kita menjadikan kegiatan menulis menjadi suatu kebiasaan, menulis apapun yang kita inginkan akan menjadi sangat mudah. Menulis menjadi semudah kita menarik nafas. Mungkin pada awalnya, kita hanya menuliskan satu kata, berikutnya satu kalimat. Kumpulan kalimat-kalimat itu akan membentuk paragraf. Dan suatu saat kita akan mampu menuliskan berpuluh-puluh bahkan berjuta-juta paragraf dengan sangat mudah.
Kebiasaan menulis itulah yang harus kita mulai dari sekarang jika kita bercita-cita menjadi seorang penulis. Tidak mudah pada awalnya bukan berarti tidak bisa.
“Haduhhh, mau menulis apaan nih? Gak ada ide sama sekali!!!”
Keluhan seperti ini sering kali terucap. Lihat saja di komunitas penulis yang tersebar di dunia maya, keluhan seperti itu sangatlah tidak asing. Hampir tiap hari ada saja yang mengeluhkan kalimat itu. Termasuk aku.
Namun setelah aku mengetahui bagaimana caranya mendapatkan ide, keluhan itu berangsur-angsur menghilang dari kamusku.
Ide itu dimana-mana. Di jalanan yang kita lalui, di rumah, di tempat kerja, dimana-mana selalu ada kejadian, orang atau situasi yang dapat dijadikan ide. Ide bertebaran di sekitar kita, tinggal kitanya saja peka atau tidak menangkap ide.
Ide datangnya bagai sambaran kilat di langit. Sekejap muncul dan sekejap pula hilang. Karena itu setiap ide yang muncul harus secepatnya kita tangkap agar tak hilang.
Bagaimana menangkap ide?
Sediakan selalu buku dan pena. Begitu ide muncul, segeralah tulis dalam buku itu. Setiap ide yang muncul tidak harus langsung jadi satu cerita atau naskah. Kita dapat mengumpulkannya dulu dan kelak dapat kita olah menjadi karya tulis kita.
Seperti artikel yang kutulis kali ini, ide ini muncul saat aku membaca beberapa buku tentang teori menulis beberapa waktu yang lalu. Dan malam ini, ketika aku membuka buku kecilku, aku langsung teringat akan ide untuk menulis tentang artikel ini.
Karena itu, tabungan ide yang kita kumpulkan sedikit demi sedikit merupakan aset berharga bagi seorang penulis. Tidak ada ceritanya seorang penulis akan kehabisan ide jika ia rajin menabung ide sedikit demi sedikit.
Setelah menulis menjadi kebiasaan, setelah kita mulai rajin mengumpulkan ide-ide yang bertebaran, selanjutnya adalah mengolah ide-ide tersebut menjadi naskah. Bagi penulis yang baru belajar seperti diriku, mengolah ide tetap saja memiliki kesulitan tersendiri. Kadang kita masih bingung akan menulis dari mana? Bingung untuk memulai menulis dari sisi yang mana? Benar kan?
Dari buku “Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang karya Andrias Harefa, ada satu bagian buku itu yang menyebutkan ungkapan yang ditulis oleh Mardjuki yaitu 3N : Niteni, Nirokke, Nambahi (Mengamati, Menirukan dan Menambahi).
Kita bisa belajar dari karya-karya penulis lain. Amatilah bagaimana penulis tersebut memulai ceritanya, pelajari temanya, bagaimana ia memulai dan mengakhiri konflik dan bagaimana ia meng-ending-kan suatu cerita.
Setelah itu, mulailah meniru. Meniru disini bukan berarti mencontek atau meng-copy paste seperti aslinya. Meniru disini berarti belajar untuk menuliskan kembali apa yang sudah kita baca dengan kata-kata dan gaya bahasa kita sendiri. Dengan menuliskan kembali bacaan yang telah kita baca dengan cara kita sendiri, berarti kita telah mengikat makna dari bacaan tersebut.
Yang terakhir adalah menambahi. Naskah yang telah kita tulis tersebut dapat kita gali lebih dalam dengan melengkapi pembahasan yang sudah ada dengan berbagai materi baru. Materi baru tersebut bisa kita dapatkan dari berbagai sumber referensi misalnya saja buku-buku yang sesuai dengan bahan yang sedang kita tulis, dari berbagai koran dan media televisi.
- “Makanan Bergizi” Untuk Penulis
Penulis harus memenuhi kebutuhannya akan “makanan bergizi”. Tanpa makanan bergizi ini, penulis akan kekurangan bahan-bahan untuk tulisannya.
Apa makanan bergizi bagi seorang penulis?
Membaca... Membaca... dan ......... Membaca.
Syarat menjadi seorang penulis yang baik adalah bahwa ia juga merupakan seorang pembaca yang baik. Menulis dan membaca adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Dengan membaca kita akan menambah atau memperkaya kosakata yang kita miliki. Dengan membaca pula kita mendapatkan berbagai referensi yang dapat melengkapi tulisan-tulisan kita. Banyak membaca membuat kita akan memiliki pengetahuan yang tak terbatas. Pepatah “ Membaca adalah jendela dunia” adalah benar, bahwa semakin banyak kita membaca, maka kita akan semakin banyak tahu apa saja isi dunia ini.
Istilah 3M semakin naik daun akhir-akhir ini. 3M = Menulis... Menulis... Menulis! (dan dapat pula berarti Membaca... Membaca.... Membaca....)
Impian untuk menjadi seorang penulis tidak akan pernah terwujud jika kita tidak pernah menulis. Sebanyak apapun buku teori tentang menulis yang kita baca, tidak akan pernah dapat membuat kita menjadi seorang penulis tanpa kita sendiri pernah dan mau menulis. Berpuluh-puluh kali ikut kursus menulis baik online maupun offline akan percuma dan jadi ajang buang-buang uang saja jika satu karya tulis pun tak pernah kita hasilkan.
Kuncinya menjadi seorang penulis akhirnya hanya menulis, menulis dan menulis. Semakin banyak kita menulis, maka akan semakin lancar dan mudah kita menulis.
Jadi.... Tulislah apa saja. Menulislah sebanyak yang kamu bisa. Berlatihlah terus dengan menjadikan menulis, menulis dan menulis menjadi bagian dari hidup.
Maka, menulis akan menjadi sangat mudah.
Yuk Menulis!!!
@tengah malam di Surabaya
22 Agustus 2011